Kenapa Banyak Orang Tidak Mau di Kritik.


Bermula dari sanggahan Mamanda Dr. Saafrudin Bahar seorang pakar pemerhati budaya Minang yang kalau saya tidak salah beliau dosen. Dalam kapasitas beliau sebagai ketua MAPPAS. Inti sanggahan tersebut “MAPPAS adalah organisasi non profit yang didirikan dari sisa hasil usaha para aggota, anda tidak berhak mengkritik, menegur! …… dst”.

Saya merespon sanggahan ini, karena merasa aneh saja. Apalagi dikeluarkan oleh seorang pakar yang berusia lanjut yang menyandang gelar akademik Dr.  Setahu saya semakin tua dan semakin tinggi pendidikan, membuat orang tersebut lebih arif dalam mengucapkan kata-kata.  Sekalipun dia marah namun dikeluarkan dengan kata-kata yang santun.

Akibat peristiwa itu, saya yang masih muda yang jujur sangat menghargai apa yang dia lakukan dimana sulit ditemukan orang diatas 70 th masih aktiv di area public untuk suatu perjuangan. Secara spontan saya menjawab ” Siapapun anda yang beroperasi di area public, anda tidak mempunyai perlindungan apapun untuk tidak boleh di kritik dan siapapun berhak mengritik.
BAGAIMANA MENURUT ANDA?…

  1. Benarkah organisasi non profit atau katakan saja milik pribadi yang beroperasi di area publics tidak boleh dikritik pihak lain ?
  2. Apakah kritik merugikan anda ?

Secara umum kita perhatikan bahwa kritikan adalah ungkapan suatu pihak ke pihak lain atas perbuatan yang dianggap salah atau berpotensi menimbulkan kerugian pada pihak tertentu baik itu material atau pun moril. Karena itu umumnya penerima kritik tidak menyenangi hal ini. dan merasa disalahkan.

Disisi lain mungkin anda juga sering membaca tentang orang yang kritis (bukan yang lagi gawat) apalagi tokoh masyarakat justru yang di banggakan. Disini konotasinya kan baik.

Saya juga dapat masukan dari teman yang katanya bersumber dari motivator
Teknik dalam hal kritik mengritik

  1. Kita ikhlas menerima kritik dari orang (siapa pun orang itu), dan sebaiknya orang yang mengkritik pun harus ikhlas menerima feed back (umpan balik) dari orang yang dikritiknya. dengan sama-sama ikhlas, insya Allah tercipta win-win solution, tapi jika kita (salah satu) tidak ikhlas, yang rugi dirinya sendiri.
  2. Dengan menerima kritik orang lain, kita mempunyai tambahan sudut pandang untuk membangun visi ke depan.

Secara garis besar saya setuju dengan apa yang disampaikan motivator ini. Tapi bagaimana caranya mengatur orang lain yang mengkritik supaya ikhlas, yang pada umumnya kritik itu muncul karena ketidak puasan. Yaitu perbuatan suatu pihak yang dianggap salah. Bahkan banyak yang sengaja ditujukan untuk menjatuhkan, merusak nama baik seseorang atau organisasi tertentu. Jadi tentang keikhlasan disini saya kurang sependapat. Memang ada yang ikhlas namun yang terlihat bahwa kritikan itu adalah menyerang atau usaha menghambat.

Kalau saya mengharapkan dikritik orang/pihak/organisasi lain apapun motifnyo, dan saya tempatkan sebagai suatu penghargan orang lain terhadap saya. Kenapa demikian?. karena yang mengkiritik adalah dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat di atasnya.

  1. Kritik adalah suatu warning kepada kita untuk melakukan sesuatu (memperbaiki, memindahkan, menghentikan, merubah bentuk dll.)  sehingga kita dapat melakukannya secara terencana. Kritikan yang bersifat destructive lebih mudah dikendalikan dari pada tiba-tiba kita mendapat serangan secara fisik
  2. Kritik dapat dianggap sebagai suatu rambu-rambu atau hukum non formal yang dibuat pihak lain terhadap kita. Bearti kitik tersebut adalah untuk kebaikan kita. Kalau dianggap tidak tepat/merugikan kita maka kita melakukan upaya tertentu agar rambu-rambu tersebut dicabut. artinya kita gunakan hak jawab.
  3. Kritik hanya menghambat pada satu atau beberapa titik saja sehingga tidak dapat dikategorikan menghambat kemajuan.
  4. Kritik timbul karena kita melakukan tindakan yang danggap salah atau merugikan pihak tertentu, karena itu sebaiknya setiap kritik kita respon secara baik.
  5. Kritik yang didiamkan akan menimbulkan konsekwensi tertentu.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: